Tampilkan postingan dengan label DISKUSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DISKUSI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2017


Kali ini bulan Suro, suasana Gerdhu tiba-tiba menjadi lebih sepi. Para penghuninya pun tiba-tiba ikut-ikutan nyepi seperti orang Hindu ketika melaksanakan upacara nyepi.
“Loh mbah, kok mbah Kacud gak keliatan selama tiga hari ini to ?” Mad Fata muncul secara tiba-tiba menghampiri Nisito dan Juniti serta Culing yang lagi asyik tiduran di Gerdhu.
“Mbahmu lagi meguru Mad. Biarin aja biasanya setelah tiga hari juga muncul.” Sahut Nisito
Dari kejauhan nampak Arda yang menghampiri keempat penghuni Gerdhu yang diberi nama Gerah (Gerdhu para Rahwono) ini. Raut mukanya nampak kesal semakin memperburuk potongannya yang hanya berpakaian kaus kutang serta celana bolong di dhengkulnya.
“Kenapa Da. Wajah dan pakaian kok serasi, lecek. Haha..” Mad Fata memperhatikan wajah Arda seraya menyambut salaman gaul dari tangannya.
“Ahh, mbuh Mad. Saya kok ya bingung tadi pas mau beli rokok, ditegur sama ustad sebelah itu. Ndalil lagi. Katanya pakaiannya orang Islam itu yang sopan niru kanjeng Nabi. Berjubah atau bersarung pakek sorban, terus dzikir di masjid. Ahh lha aku beli rokok kok jubahan.” 
“Betul itu Da. Kanjeng Nabi dulu jubahan. Kita ya minimal sarungan terus diangkat sedikit biar gak masuk neraka.”
“Hubungane apa sarung sama Neraka, Ling. Islam kok ya mengerikan ngunu.” Arda ndak mau kalah sama Culing yang malah bela ustad tersebut.
“Loh kan katanya kalo sarung kita nglembreh nanti masuk neraka. Makanya kamu ngaji jangan di Gerdhu aja.”
“Loh kamu sendiri nek sudah mentok ngajimu yo akhire ngaji ke mbah Kacud.” Arda tidak terima. “Bukan urusan acara ta tempat Ling, tapi dapat apa kamu waktu ngaji.”
“Wes wes, begini lho lee. Kanjeng Nabi ndawuh ataupun melakukan sesuatu itu kita tidak boleh langsung menerima mentah-mentah. Harus tau dimensi sosial politiknya waktu itu, kondisi kebudayaannya, struktur manajemen berpikir masyarakatnya, wahh luas lee. Tidak bisa di telan mentah-mentah.” Juniti mulai membuka pembicaraan.
Memang beberapa hari ini diskusi di Gerdhu cenderung ngislami, entah karena terbawa suasana mistis bulan Suro yang identik dengan ngumbah pusoko bagi orang Jawa.
“Lah waktu Kanjeng Nabi ngomong tentang pakaian yang nglembreh. Kudu jelas itu bersifat kebendaan atau makna. Kalo kebendaan berarti kita harus tau kondisi lingkungan Arab.” Nisito turut menyumbangkan idenya
“Di Arab kan ya gitu-gitu aja kondisinya mbah, padang pasir tandus, banyak kurma, banyak domba.” Arda mencoba mengidentifikasi kondisi lingkungan Arabnya.
“Nah, terus kira-kira kenapa Kanjeng Nabi nyuruh pakaiannya diangkat?”
“Ya mungkin lho mbah ya, mungkin.” Kata Mad Fata. “Kanjeng Nabi nyuruh kita menjaga pakaian agar tidak kena debu yang diragukan kesuciannya, mungkin waktu angin agak kencang debunya bercampur telethong unta. Kan najis mbah.”
“Nah berarti yang disuruh ngangkat pakainnya apa menjaga kesuciannya ?”
“Kesucian mbah.”
“Nah, sekarang kita mencoba dari sisi makna. Kira-kira maksud pakaian nglembreh itu apa ?
“Apa ya mbah ?” Culing mendongakkan wajahnya. “Mungkin tandanya berlebihan mbah. Kan kalo nglembreh berarti pakaiannya lebih.”
“Nahh tepat. Berarti kalo berlebihan tandanya orang yang ?”
“Sombooong.” Hampir serentak ketiga pemuda itu menjawab Nisito
“Nah, berarti Kanjeng Nabi nyuruh kalo pakaian biasa aja, ndak usah terlalu bagus. Ataupun meskipun pakaiannya biasa, jangan sampai ada niat ingin menyombongkan diri.”
“Intinya.” Sahut Juniti. “Meskipun kita lempit sarung kita tapi tujuan kita tidak seperti maksud Kanjeng Nabi, ya salah kaprah lee.”
Ketiga pemuda tersebut manggut-manggut seperti diceramahi kyai tapi potongan kayak wong gendheng. Tak berselang lama, muncul sesosok orang njembling seperti busung lapar dengan mata yang sayu mendekati mereka. Tak salah lagi, Kacud menghampiri mereka dengan memakai baju surjan, sandal klompen, dan berjarik.
“Lo,, loo,, mbah Kacud ini mau nikah lagi to ? Iling mbah, udah layu.” Kata Mad Fata.
“Aku baru ketemu Kanjeng Nabi. Makanya pakai begini.”
“Loh kok ya aneh, ketemu Kanjeng Nabi ya pakek sarung bergamis mbah. Bukan kayak mantenan.” Culing nampak tidak terima.
“Itu kan Kanjeng Nabi menurutmu, Kanjeng Nabiku ya begini. Wong beliau orang Jawa kok, Cuma dulu bajunya jubah semua, makanya beliau berjubah. Coba beliau ndak disuruh ke Arab, ya mungkin bersurjan.”
“Mbah Kacud ini tiga hari nyepi udah sesat, tobat mbaah. Kanjeng Nabi pakaiannya jubah putih bagus, pakek sorban.”
“Nabimu kui sopo to ? Kanjeng Nabi Muhammad, Musailamah Al-Kadzab atau Abu Jahal ?”
“Ngawur mbah ini, ya Nabi Muhammad.”
“Lho ya gini pakaiane Kanjeng Nabi. Nek jubahan bagus yo Abu Jahal. Lha Kanjeng Nabi angon wedhus kok jubahan apik. Gile lo ndro.”
“Kanjeng Nabi berjubah kan memang pakaiannya di Arab semua berjubah. Beliau abdan Nabiyya. Nabi yang menghamba. Beliau mensejajarkan dirinya dengan orang atau rakyatnya yang pakaiannya paling buruk sehingga banyak tambalan di jubah beliau lee.” Ujar Nisito
“Kalau di Jawa mungkin Kanjeng Nabi ya bersurjan, pakai udheng, membawa keris. Makanya kanjeng Sunan Kalijaga ya begitu, niru nilai berpakaiannya Kanjeng Nabi, bukan niru pakaiannya.” Sambung Juniti
“Tapi tadi mbah Kacud bilang kalo kanjeng Nabi Muhammad orang Jawa. Kan pengawuran sejarah mbah.” Kata Culing
“Maklum Ling, mbah Kacud ndak sekolah.” Sahut Mad Fataa
“Memang secara jasad, beliau orang Arab. Namun, secara kepribadian dan karakter serta kelakuan, beliau berjiwa Jawa sehingga mbahmu Kacud menganggap beliau masih ada darah Jawa.” Kata Nisito
“Lho, kok bisa mbah ?” Culing kebingungan
“Coba, sifat kanjeng Nabi Muhammad itu bagaimana yang paling menonjol ?”
“Beliau lembut, ndak pemarah, pemaaf, dan apa lagi yaa...” jawab Mad Fataa
“Beliau adalah Al-Qur’an yang hidup.” Sahut Culing
“Wah, jawabanmu kurang kreatip. Kanjeng Nabi suka bertapa, suka ngitung-itung, suka kemenyan, suka musik, suka wetonan.” Tungkas Kacud
“Lho, lho, beneran to mbah ?”
“Ngawur sampeyan mbah !”
“Gini lee, Kanjeng Nabi kan juga melakukan bertapa atau menyendiri di tempat yang jauh dari keramaian. Atau mungkin kalian menyebutnya ya berkhalwat di Gua Hira. Akhirnya beliau mendapatkan kesejatian diri dengan diangkat menjadi Nabi dan Rasul.” Jawab Nisito
“Oiya ya mbah, beliau menyendiri 40 hari 40 malam sehingga mendapat wahyu.” Ucap Culing
“Lebih tepatnya, mendapat risalah dan nubuwah lee, bukan sekedar wahyu. Karena kalau wahyu, semua makhluk juga diwahyui oleh Gusti Allah. Wong lebah ae diberi wahyu kok, opo maneh potongan kita.” Sahut Juniti
“Kanjeng Nabi juga suka dengan perhitungan. seperti ketika beliau sakit, beliau minta air dari 7 sumur sebagai jalaran obatnya. Nah, coba kalian pikir lah, bangsa mana yang suka dengan begituan ?” tanya Nisito
Para pemuda nampak bingung ngelu dengar sebuah hal aneh yang kalo disalahkan ya kayaknya ndak salah, dibenarkan ya kok ndak ada dalam buku-buku pelajaran.
“Iya ya mbah, tak pikir-pikir juga begitu. Sifat orang Arab kan kebanyakan agak keras dengan suaranya yang lantang. Kalo saya belajar pembagian iklim ya wajar mereka berwatak keras karena iklim di sana kan ganas. Tapi kok ya Kanjeng Nabi itu berbeda, kok aluuus, kalem, santun, ngomongnya ya ndak keras tapi jelas.” Beber Arda yang dari tadi meneng tiba-tiba mulai muni.
“Wah wah, kamu kritis juga Da, kamu tau dari mana kok orang Arab keras ?”
“Kan pernah ada Sayyid atau orang sini nyebutnya Habib dari wilayah Arab ngisi pengajian, kalo ngomong ya beda dengan bangsa Jawa. Ngomongnya keras dan tidak basa basi. Kalo kita kan meskipun ngomong benar dan menyalahkan yang lain tetap memikirkan perasaan orang to mbah.”
“Joss, joss.” Kacud tiba-tiba bertepuk tangan. “Potonganmu kayak wong ngedos, tapi pikiranmu ngalah-ngalahi propesor.”
“Penampilan bukan patokan penilaian mbah. Haha”
“Tapi ya mosok Gusti Allah keliru nakdirkan kanjeng Nabi ke Arab ?” tanya Mad Fata
“Lho ya ndak lahh,, islam kui butuh penguatan akar. Makanya ditaru di Arab. Orang Arab kalo indah ya dibilang indah, kalo salah ya dibilang salah. Tegas, keras, dan kuat. Maka dinikahkan atau diperjodohkan dengan kanjeng Nabi sebagai sosok penghalus, pengasih, penyayang. Islam menjadi sebuah nilai yang lengkap dan indah dengan dasar yang kuat lee.” Ujar Nisito
“Betul itu Mad, nek ditaruh di Jawa, waah jelas ndak kuat. Disini salah ya yang ngomong salah yang dipertanyakan. Separuh bilang benar, separuh salah, wah serba dibulet-buletkan. Kemudian sifat Jawa ya manutan tanpa pikir panjang. Bahaya kalo islam turun disini, nanti jadinya kayak keyakinan lain yang punya banyak versi kitab sucinya.” Tungkas Arda sambil merem melek
“Sek sek sek. Kamu ini kerasukan jin apa kok tiba-tiba ngomong gini.” Tanya Kacud
“Lho kan, gini nih sifat Jawa. Orang benar dipertanyakan. Kalo di Arab, langsung manthuk-manthuk mbah. Huahua”
“Kampret kowe.”

*SLUKU-SLUKU BATHOK*
```Sluku-sluku bathok,
Bathoké éla-élo
Si Rama menyang Solo,
Oléh-oléhé payung mutho.
Mak jenthit lolo lo bah,
Yén mati ora obah
Yén obah medéni bocah,
Yen urip goléko dhuwit"```
*Sluku-sluku bathok:*
_Hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja. Waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi seimbang. Bathok atau kepala kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya._
*Bathoké éla élo :*
_Dengan berdzikir *(éla-élo = Laa Ilaaha Ilallah)*, mengingat Allah, syaraf neuron di otak akan mengendur. Ingatlah Allah, dengan mengingat-Nya hati menjadi tentram._
*Si Rama menyang Solo:*
_*Siram (mandilah, bersucilah)* menyang (menuju) *Solo (Solat).* Lalu bersuci dan dirikanlah salat._
*Oléh-oléhé payung mutho :*
_Maka kita akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita._
*Mak jenthit lolo lo bah :*
_Kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu. Tak dapat diprediksi tak juga terkira. Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat._
*Wong mati ora obah :*
_Saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang._
*Yen obah medéni bocah :*
_Banyak Jiwa Yang-Rindu Untuk-Kembali Pada-Allah ingin minta dihidupkan, tapi Allah tak mengizinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya pasti menakutkan dan madlaratnya tentu lebih besar._
*Yén urip goléko dhuwit :*
_Kesempatan untuk beramal hanya ada di saat sekarang (selagi mampu sekaligus ada waktu) bukan di nanti (ketidakmampuan dan hilangnya kesempatan), tempat behramal hanya di sini (Dunia) bukan di sana (Akherat), di sana bukan tempat beramal (bercocok tanam) tapi tempat berhasil (panen raya)._

Jumat, 23 Desember 2016




Kali ini Gerdhu benar-benar sumpek. Bukan karena Gerdhunya yang menyusut akibat hawa dingin, tetapi semakin banyaknya yang mendadak aktif di Jam’iyah Gerdhuiyah. Memang mayoritas dihuni para pemuda dan beberapa orang tua, yang tak pernah telat yaitu para mbah-mbah yang gak jelas kerjanya, gak mesti makannya, gak karuan dandanannya, dan yang pasti, gak pernah terdeteksi kekayaannya alias mlarat.
Mereka seperti biasa berkumpul bercanda, medhongkrong, main catur, kartu remi jongkongan, sambil sesekali menyeruput kopi. Hal ini justru menguntungkan para mbah mereka yang secara otomatis dapat kopi, jajan, dan rokok gratis. Mereka menikmati gorengan godho gedang dan saplak dicampur parutan kelapa. Tak selang begitu lama mereka dikejutkan dengan suara orang paruh baya dari atas sepeda menyapa mereka. Oh, ternyata wak Lurah yang kebetulan lewat dengan pakaian dinas rapinya menandakan orang sibuk. Otomatis seluruh penghuni Gerdhu menyapa balik sambil geguyonan menawarkan tempat singgah mbok menawa wak Lurah pengen gabung.

Jawa kui etnis, ras, suku, bahasa, sifat, apa ajaran ?

Fenomena Gerdhu kali ini begitu menyejukkan. Sepoi-sepoi angin di desa Karang Sringah karena memasuki musim layangan. Musim yang identik dengan hembusan angin melambai menyapa layang-layang untuk menikmati kebebasan di udara.
“Indahnya pulau Jawa..” Nisito merem melek menikmati hembusan angin di sekitar Gerdhu.
“Iya mbah, tak pikir-pikir Jawa kok sangat mengagumkan, alamnya asri, musimnya hangat, kolam susu kata Koes Plus, ikan udang menghampiri.” Kata Joko
“Justru karena mengagumkan, rakyatnya gampang digobloki.”
“Yo emang sih mbah, kita ndak bisa niru Amerika atau minimal Malaysia nek urusan pintarnya. Tapi kan bukan karena tanahnya.”
“Lho, nek lawan Amerika atau Malaysia ya sik cerdasan mbah-mbahku lah. Sik cerdas mbahmu Juniti. Amerika negara melarat, Malaysia sawangannya  negara tapi bukan negara. Hahaha”
Uraian Kacud semakin membingungkan pikiran Joko. Entah karena ndak umum atau pemikiran Kacud yang usang tentang keadaan luar negeri. Tapi ya Joko memaklumi lha wong para mbahnya ini ndak sekolah dan pengangguran.
“Mbah, Amerika kok melarat. Dari dulu udah tau Amerika itu negara hebat mbah.” Sahut Culing.
“Mlarat, ndak nekat, budheg, curek, sumbing, bisu, suthuk, belek’en.”
“Sampeyan ini ngomongin Amerika ta ngomongin sampeyan sendiri to mbah ?”
Juniti dan Nisito tertawa mendengar omongan Kacud yang memang ngawur sak kenanya cangkemnya. Akhirnya Nisito pun tak tinggal diam.
“Lee, maksudnya mbahmu Kacud, Indonesia itu kaya makanya orangnya gampang terlena dengan menikmati apa saja hasil alamnya sehingga tidak ada pikiran mereka untuk memayu hayuning bhawono, menyiapkan alam untuk anak cucu. Justru potensi kenyantaiannya itu sangat membahayakan, sehingga gampang sekali katutan, kagetan, kagum, dan sebagainya.”
“Lah untuk Amerika, maksud mbahmu Amerika memiliki senjata canggih dan minyak bumi dari mana ?”
“Ya dari tambang mbah.Kan mereka punya alat canggih, ya to..”
“Yang terpenting bukan tambangnya, lee. Tambangnya mereka di negara mana ? dengan cara apa mereka bisa leluasa mengambil tambang itu ? bagaimana kok bisa Amerika menjadi negara yang oleh mereka sendiri mereka sebut negara Adikuasa dan negara kita digolongkan negara berkembang. Itu kan kata mereka. Kata mbah-mbahmu ini bisa beda to, kan pendapat. Kami ya percaya bahwa negaramu Nusantara lebih dari mereka semua jika dilihat dari semuanya, lee. Malaysia coba kalian pelajari sekarang, bagaimana budayanya, siapa yang menguasai ekonominya.”
Mereka begitu asyik menyimak penjelasan Nisito tersebut, sampai-sampai tak sadar bahwa Gerdhu semakin ramai dengan datangnya beberapa cecunguk pemuda lainnya. Ada si Mad Fata, si Arda, si Jemblung, si Kupret, si Amang, dan si Alan. Juniti juga turut mengutarakan pandangannya.
“Nah kayaknya ndak lama lagi Indonesia juga udah gak ada lagi suku dan ras. Kita terlalu sibuk menganggap bahwa asing itu utama. Gedang goreng mungkin kurang menarik dibandingkan fried banana atau choco banana. Kita kagum dengan apapun asal dari asing.”
“Lho kan memang kualitas mbah.” Kata Arda
“Kualitas, Jun. Makanya sekarang penyakitnya juga berkualitas, Kolesterol, Gagal ginjal, Jantung lemah, Paru-paru basah, Raja Singa. Lah penyakitmu ndak berkualitas, boyok’en, mejen, cantengen, gringgingen, anyang-anyangen, paling pol ya mencret.” Kata Kacud sambil menepuk pundak Juniti.
“Ya ndak gitu juga mbah, piye to ya ya.” Sahut Arda dengan sinis, sementara teman-teman yang lain tertawa lepas melihat jawaban pathing mecotot dari mbahnya, Kacud.
“Berarti kita harus mempertahankan suku Jawa ya mbah ?” kata Amang, seorang anggota Gerdhu baru yang paling muda.
“Kalo pengen jowo ya tinggal sodakoh. Kan Jowo.” Sahut Kacud
“Lho, Jowo itu apa to mbah ?”
“Jowo yo ajaran, ajaran Jowo atau biasanya disebut Kejawen.” Sahut Kacud lagi
“Lho lho, mbah Kacud ini gimana to, katanya tadi jowo itu sedekah, sekarang ajaran.” Kata Mad Fata
“Lho piye kowe iki lee, Jowo itu kota di Israel, Java Tel Aviv.”
“Mbuh, mbuh, mbah. Nyerah.”
“Wahaha, Jowo itu luas lee, dikatakan sifat ya bisa, bangsa ya bisa, suku ya tentu, kehidupan ya boleh, kepribadian ya ndak salah, kebudayaan ya masuk akal, bahkan sebuah kerohanian ya logis.” Nisito mulai membuka mulutnya
“Kalo gitu Jowo itu apa ya ?” tanya Fata
“Ya kamu itu.”
“Maksudnya, mbah ?”
“Lho ya semuanya itu yang dari kesemuanya itu terwakili di dalam dirimu.”
“Ah, masih bingung.”
“Seperti kalo kamu anak sekolahan yang bermain volly, maka kemu bisa disebut pelajar, anak desa, pemain volly, bahkan penonton volly soalnya kebetulan kamu ternyata ndak main.” Nisito menjawab panjang lebar. “Tapi siapakah kamu ? bisakah sebutan itu mewakili keseluruhan dirimu ?”
“Ya ndak bisa, itu kan bagian dari saya.”
“Nahh, dari Jawa melahirkan kesemuanya. Itu simpelnya. Tapi banyak misteri Jawa lainnya yang kalo diomongin, bahaya.”
“Kenapa bahaya mbah ?”
“Karena tidak aman.” Sahut Kacud
“Haduh, sampean ini mending brukut sarung terus tidur aja lah mbah.” Kata Arda
“Bangsa Jawa kalo dilogika itu sangat tua, buktinya daya kepekaan terhadap alam, kecerdasan terhadap situasi dan kondisi, penghitungan, tingkat keyakinannya sangat tinggi, yang sudah jelas merupakan hasil dari pencarian selama bertahun-tahun.” Kata Juniti
“Masih mbulet mbah.”
“Kalender, orang menghitung hari kan harus memiliki penghitungan yang cermat to. Bahkan mbahmu dulu kenal pasaran dino.”
“Apa itu mbah ?” tanya Alan
“Pasaran dino itu pembagian hari lee, kalo kamu karena ikut mbahmu dari barat ya harinya dibagi jadi tujuh to, dari Minggu sampai Sabtu. Mbahmu dulu saking hebatnya, ada pasaran dino siji, teluan, limoan yang dari Paing sampai Legi, pituan, 30 harian, 40 harian.”
“Hari dibagi itu kan karena ada momentum ruang dan waktu yang berbeda, nahh ilmu selain Jawa hanya mampu membagi jadi 30 dan 7. Mbahmu lengkap.” Nisito menambahi
“Mangkanya, dari situ keliatan kamu itu bangsa paling tua, ndull. Terus dibodohi ikut bangsa yang baru lahir. Kebo nyusu Gudhel.” Sahut Kacud. “Kalo pas nyeramahi orang sok Ngarab, kalo pas debat agama sok Ngarab. Kalo ngomong sok Nginggris, pakaian sok Ngamrika.”
“Kira-kira kenapa to mbah kita kok seolah katutan dengan budaya lain ? kok sekarang hampir semua tentang Jawa kok kayaknya jelek.” Tanya Jemblung
“Contohnya..”
“Ya kayak di tipi, kalo ngomong logat Jawa di jelek-jelekkan. Terus tak pikir-pikir banyak kata-kata Jawa yang dianggap dosa, tapi kalo diucapin dalam bahasa Indo apalagi Arab kayak lebih sopan. Kayak contohnya kemaluan, setubuh, misuh, dan sebagainya.”
“Wahh,, kritis kamu mBlung.” Puji Juniti “Memang fenomena seperti itulah yang menimpa kita agar kita lupa dengan budaya asli kita. Semakin kita lupa, semakin kita mudah dijajah oleh bangsa lain, akhirnya kekayaan alam kita gampang diambil. Coba kalo semua orang Jawa seperti pada masa kerajaan seperti Majapahit, Sunda, Galuh, Kalingga, Sriwijaya, Mataram, wah jangankan dihilangkan budayanya, lha wong orang asing yang coba berdagang disini aja tidak gampang kok. Penguasa dagang harus rakyat Jawa dulu, karena urusannya tidak hanya berdagang, tetapi menjaga harga diri, harta, martabat, kehormatan, dan keberlangsungan masa depan. Karena kalo tanah Jawa berarti yang mampu mengolah secara baik dan benar ya orang Jawa. Ibarat rumahmu, yang mampu mengelola ya kamu to, kalo orang lain mencoba mengelola, ya tujuannya tidak atas dasar kecintaan kepada rumah, tapi memanfaatkan rumah, wong ndak ikut memiliki.”
“Em, gitu to mbah.” Sahut Amang
“Kalo kamu lupa dengan Jawa, sing pantes ya kamu masuk Neraka. Haha..” Kacud nyelonong pembicaraan mereka sambil ndelosor di Gerdhu.
“Lho, kok segitunya mbah ?” tanya Culing
“Yang nyuruh kowe jadi orang Jawa siapa ?”
“Ya Tuhan mbah.”
“Lha kalo kita lupain Jawa, berarti kita ndak mau dengan takdir ketentuan Tuhan, terus pantese masuk apa ?”
“Yaa Neraka ya,, iya yaa.” Culing manggut-manggut yang diikuti teman-temannya yang lain bagaikan jamaah tahlil.
“Wah sik mending neraka, nek ndak diterima Tuhan soale kamu ndak mau neriman, piye kowe di Akhirat ngekost dimana ? Sapiteng Surga ?”
“Wahh, mbah ini medheni ajaa.”
“Haha..”

Jan-jane Lagu kui duwe agomo opo ora to yo


“Asyem mbah. Yang dinyanyikan di masjid kok lagunya itu-itu aja. Mbok ya lagu dangdut ta rapper.” Arda menyembujungkan kakinya di Gerdhu bersama Juniti dan Nisito sambil nyeletuk orang yang sedang asyik pujian di masjid.
“Ngawur, dosa itu Da mosok masjid dibuat dangdutan. Yo dituthuk ndasmu sama bedug.” Culing yang keasyikan ngleset di Gerdhu spontan menimpali omongan Arda yang dirasa mulutnya gak pernah disekolahkan.
Juniti yang gatel karena omongan kedua pemuda ini akhirnya menyahuti. “Haha, kalian ini kok lucu to bahas lagu-laguan. Kamu tau lagu ndak ? Tanya mbahmu Nisito yang pernah duet bareng Michael Jackson, Taylor Swift, Justin Timberlake, Megan Trainor, dan Avril nyanyi tombo ati.”
“Ah, mbah Jun ini bisa-bisa ae.”

Sakjane dolanan opo ngaji, opo kok ngaji model dolanan, opo dolanan karo ngaji


Mad Fata dan Joko tampak kesal pulang ke Gerdhu tempat pemuda berkumpul di desa Karang Sringah. Disana telah ditunggu oleh tiga penghuni tetap Gerdhu yang sudah mengkeret dari ujung atas sampai bawahnya. Ketiga penghuni Gerdhu tersebut memang setia menjaga eksistensi Gerdhu di lingkaran gedung elit, lha wong memang ndak ada lagi yang dikerjakan.
“Kenapa Ko, dari pengajian gak sumringah malah pucet gak karuan kayak sarung nglumbruk.” Kacud menyindir nyinyir disertai suara ketawanya yang sedikit tapi nyelekit yang ditujukan kepada kedua pemuda berusia masih tergolong degan yang baru sampai di Gerdhu tersebut.

Kategori

SEWELASAN

AGENDA

  • MENGOLEKSI
  • BERKEGIATAN
  • NAPAK TILAS

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget