Rabu, 18 Januari 2017




Shield of an Aceh warrior, captured in 1876. Aceh, ca. 1870-1875

Shield of an Aceh warrior, captured in 1876. Aceh, ca. 1870-1875
For many years, the colonial administration focused purely on Java. It was thought that the other islands of the archipelago, the outer provinces, were unprofitable, so they were left undisturbed. In the late 19th century, the Dutch changed tack. With the opening of the Suez Canal, more ships had started to use the Malacca Strait, and these had fallen prey to pirates who operated from the nearby sultanate of Aceh on Sumatra and threatened to make use of the route impossible. Moreover, in 1871, the Netherlands had acquired official sovereignty over Aceh. To enforce its authority, the Dutch sent troops to take over the palace of the sultan of Aceh. It was a symbolic act, but a guerrilla war erupted which seemed impossible to suppress. Led by J.B. van Heutsz, a Dutch army eventually managed to break the resistance. Dutch troops treated the indigenous population with particular severity.


After the Java War, a Dutch vision developed of the East Indies as a subdued province. Johannes van den Bosch, the governor general who launched the cultivation system in 1830, envisaged that instead of paying rent, the indigenous population would henceforth devote a fifth of their land to export crops. This produce – indigo, sugar and coffee – was sold in Europe by the Netherlands Trading Company (Nederlandsche Handel-Maatschappij or NHM), which made a vast profit.
The Dutch government received considerable revenue from the East Indies: in some years, as much as a quarter of the nation’s income came from the colony. Local rulers also benefited from the cultivation system. They received bonuses if their farmers increased production. For the ordinary Javanese, the cultivation system was an additional financial burden, moreover it led to corruption and exploitation. Despite protests against its harmful effects, the system remained in place until 1870.
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870

Senin, 16 Januari 2017

PETRUS.....
.............................Suatu malam pertengahan Juni 1983, sebuah jip berwarna gelap berhenti di tengah jembatan Sungai Cimedang, sekitar 70 km sebelah timur Tasikmalaya, yang membatasi Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya. Beberapa penduduk yang sedang meronda melihat kendaraan tersebut berhenti sebentar di tengah jembatan, berputar, lalu ngebut kembali ke timur, arah semula jip itu datang.
Peristiwa itu nyaris tak menarik perhatian jika esok harinya penduduk yang tinggal di dekat jembatan tak menemukan sesosok mayat tersangkut di akar pepohonan di tepi barat sungai. “Tenggorokan mayat itu luka menganga, kepala pecah, dan darah keluat dari mulut, hidung, dan lubang luka itu,” ujar Sabeni (bukan nama sebenarnya), seorang pencari ikan dari Desa Sindangsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis. Tak ada identitas diri ditemukan pada mayat pria berusia tiga puluhan tahun itu, kecuali tubuhnya yang penuh rajah. Oleh penduduk yang pagi itu berniat mandi, mayat itu didorong ke tengah sungai dan dihanyutkan ke hilir. “Kita tidak ingin urusan dengan polisi. Makanya mayat itu tidak kita laporkan,” ujar seorang penduduk Desa Tawang, Kecamatan Panca Tengah, Kabupaten Tasikmalaya. Masyarakat setempat berharap, mayat itu dibawa arus ke laut selatan yang jaraknya sekitar 18 km dari jembatan Cimedang.
“Setelah kejadian malam itu, hampir tiap dua malam sekali jip warna gelap itu melewati desa kami dan berhenti di jembatan,” cerita Icang, seorang penduduk Desa Tawang yang lain. Dan bisa dipastikan, setelah kunjungan jip itu, esoknya sesosok mayat penuh luka ditemukan tersangkut di pinggir sungai. Tak seorang penduduk pun berniat mengetahui dari dekat apa yang dikerjakan jip misterius itu. “Tugas penduduk desa adalah bertani. Sedang pembunuhan itu urusan yang berwajib,” kata Icang. Sampai sepekan menjelang Lebaran, penduduk sepanjang tepian sungai itu telah menemukan 18 mayat, seorang di antaranya perempuan. Semuanya tak mempunyai tanda pengenal, namun semuanya bertato. Mereka tewas dengan kepala remuk atau leher dijerat tali plastik. Semua penemuan itu tak dilaporkan pada kepolisian setempat.
Penduduk Desa Sindangsari dan Tawang tampaknya tak berniat menguburkan mayat-mayat yang mereka temukan. “Mayat itu kan mayat residivis yang selama ini merongrong rakyat,” kata Kasni (bukan nama sebenarnya), penduduk Desa Sindangsari. Jika mayat terdampar di tepi barat sungai, yang berarti wilayah Tasikmalaya, penduduk mendorongnya ke tengah, dan biasanya kemudian tersangkut di tepi timur sungai. Penduduk tepian ini kemudian ganti mendorong mayat itu ke tengah sungai lagi.
Akibat ditemukannya mayat misterius itu penduduk sepanjang tepian sungai itu selalu was-was bila mandi atau mencuci di kali. Mereka khawatir kalau tiba-tiba muncul mayat yang mengambang. Para pencari ikan juga mengeluh. Masyarakat menolak membeli ikan yang ditangkap dari Sungai Cimedang karena khawatir ikan tersebut telah memakan mayat. Penduduk kedua desa itu pun sepakat buat mengajukan keberatan agar mayat tak dibuang lagi di sungai. Tapi kepada siapa? Bukankah pelaku pembunuhan misterius itu tak diketahui. Lewat beberapa wartawan yang berkunjung ke wilayah itu, mereka mengimbau agar di waktu mendatang mayat digeletakkan di pinggir jalan. “Kami yang akan menguburkannya,” kata seorang tokoh masyarakat setempat. Untuk itu setelah Lebaran penduduk menggali tiga lubang kubur di sebuah kebun di Desa Sindangsari. Namun upaya itu ternyata sia-sia. Sebab setelah itu tak ada lagi mayat misterius yang kelihatan mengambang di Sungai Cimedang. Tiga lubang besar itu pun masih menganga sampai sekarang.

Petrus merupakan satu dari serangkaian sejarah kelam masa Orde Baru. Berikut beberapa sejarah yang kelam masa Orde Baru..


(Membaca Ulang Babad Giyanti)
Lagi baca-baca lagi Babad Giyanti, yang membagi Kerajaan Mataram jadi dua: Yogyakarta dan Surakarta.
Tapi selagi saya baca, ada fakta sejarah menarik yang selama ini sejak sekolah saya abaikan. Fakta bahwa gara-gara Geger Pecinan 1740, Sunan Pakubuwono II memindahkan kratonnya dari Kartosura ke daerah Solo. Mulai 1745, Kraton Surakarta resmi berjalan.
Fakta sejarah kedua, meskipun Rusuh Pecinan 1740 itu pada akhirnya memang berhadapannya Cina dengan pasukannya Pakubuwono II, tapi yang bikin gara-gara awal itu VOC alias Kumpeni Belanda. Gara gara pergesekan itu, timbullah perseteruan segitiga yang rumit. Antara Belanda, Kerajaan Mataram, dan Cina.
Awalnya Pakubuwono II berkomitmen bersama dengan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said(Pangeran Samber Nyawa), untuk bersekutu dengan Cina menggempur Kumpeni Belanda. Tapi kemudian, entah apa sebabnya, Pakubuwono II berbalik haluan, membela Belanda, melawan Cina. Sehingga akhirnya pemberontakan Cina terhadap Belanda jadi melemah, dan akhirnya berhasil ditumpas.
Nah dari perkembangan ini, Proxy War Belanda rupanya berhasil membelah Kraton Surakarta. Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said, kekeuh untuk tetap melawan Belanda. Musuh pokok adalah Belanda. Cina itu kembangan aja, kira kira gitu lah. Sedangkan Pakubuwono II beranggapan dengan tumpasnya pemberontakan Cina dalam Geger Pecinan 1740, urusan sudah selesai. Bersekutu dengan penjajah Belanda, sah sah saja. Gampangannnya gitu lah.
Sementara itu, meski ada tentangan keras dari Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said, Pakubuwono II malah makin mesra menjalin persekutuan dengan Belanda.
Alhasil, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said, menjalin ikrar bersama bersekutu melawan Pakubuwono II. Pokoknya melawan Belanda merupakan harga mati. Karena perang berlarut-larut, akhirnya 1755 disepakati kekuasaan Mataram belah dua.
Pangeran Mangkubuwmi, dapat Yogyakarta dan sekitarnya, bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Sedangkan Pakubuwono II dapat sebagian besar daerah di Surakarta. Sedangkan Raden Mas
Said, dapat wilayah utara Solo, yang kemudian jadi Kraton Mangkunegaran. Raden Said alias Pangeran Samber Nyawa, bergelar Raja Mangkunegara I.
Apa hikmah dari peristiwa bersejarah yang terdokumentasi melalui Babad Giyanti tersebut? Hati-hati dengan Proxy War yang dimainkan Asing. Pakubuwono II, Sultan Hamengkubuwono I, dan Raja Mangkunegara I, telah menjadi sasaran Perang Proxy dari Belanda dan Cina.
Maka itu, waspadai agen-agen Van Mook dan Van der Plas yang sepertinya sejak 1948, 1965, 1998, masih tetap mengaktifkan jaringan jaringannnya di Indonesia untuk memainkan peran aktif dalam operasi-operasi politik dan Perang Psikologis di Indonesia.
Pada awalnya, kalau saya telisik kronologi yang bermuara pada Geger Pecinan 1740, sebenarnya awal mulanya justru gesekan antara Kumpeni Belanda versus komunitas Cina di tanah Jawa. Sehingga pihak Belanda dan komunitas Cina sama sama membujuk pemain pemain kunci di Kraton Mataram, untuk bersekutu di pihaknya.

Sabtu, 14 Januari 2017


Kali ini bulan Suro, suasana Gerdhu tiba-tiba menjadi lebih sepi. Para penghuninya pun tiba-tiba ikut-ikutan nyepi seperti orang Hindu ketika melaksanakan upacara nyepi.
“Loh mbah, kok mbah Kacud gak keliatan selama tiga hari ini to ?” Mad Fata muncul secara tiba-tiba menghampiri Nisito dan Juniti serta Culing yang lagi asyik tiduran di Gerdhu.
“Mbahmu lagi meguru Mad. Biarin aja biasanya setelah tiga hari juga muncul.” Sahut Nisito
Dari kejauhan nampak Arda yang menghampiri keempat penghuni Gerdhu yang diberi nama Gerah (Gerdhu para Rahwono) ini. Raut mukanya nampak kesal semakin memperburuk potongannya yang hanya berpakaian kaus kutang serta celana bolong di dhengkulnya.
“Kenapa Da. Wajah dan pakaian kok serasi, lecek. Haha..” Mad Fata memperhatikan wajah Arda seraya menyambut salaman gaul dari tangannya.
“Ahh, mbuh Mad. Saya kok ya bingung tadi pas mau beli rokok, ditegur sama ustad sebelah itu. Ndalil lagi. Katanya pakaiannya orang Islam itu yang sopan niru kanjeng Nabi. Berjubah atau bersarung pakek sorban, terus dzikir di masjid. Ahh lha aku beli rokok kok jubahan.” 
“Betul itu Da. Kanjeng Nabi dulu jubahan. Kita ya minimal sarungan terus diangkat sedikit biar gak masuk neraka.”
“Hubungane apa sarung sama Neraka, Ling. Islam kok ya mengerikan ngunu.” Arda ndak mau kalah sama Culing yang malah bela ustad tersebut.
“Loh kan katanya kalo sarung kita nglembreh nanti masuk neraka. Makanya kamu ngaji jangan di Gerdhu aja.”
“Loh kamu sendiri nek sudah mentok ngajimu yo akhire ngaji ke mbah Kacud.” Arda tidak terima. “Bukan urusan acara ta tempat Ling, tapi dapat apa kamu waktu ngaji.”
“Wes wes, begini lho lee. Kanjeng Nabi ndawuh ataupun melakukan sesuatu itu kita tidak boleh langsung menerima mentah-mentah. Harus tau dimensi sosial politiknya waktu itu, kondisi kebudayaannya, struktur manajemen berpikir masyarakatnya, wahh luas lee. Tidak bisa di telan mentah-mentah.” Juniti mulai membuka pembicaraan.
Memang beberapa hari ini diskusi di Gerdhu cenderung ngislami, entah karena terbawa suasana mistis bulan Suro yang identik dengan ngumbah pusoko bagi orang Jawa.
“Lah waktu Kanjeng Nabi ngomong tentang pakaian yang nglembreh. Kudu jelas itu bersifat kebendaan atau makna. Kalo kebendaan berarti kita harus tau kondisi lingkungan Arab.” Nisito turut menyumbangkan idenya
“Di Arab kan ya gitu-gitu aja kondisinya mbah, padang pasir tandus, banyak kurma, banyak domba.” Arda mencoba mengidentifikasi kondisi lingkungan Arabnya.
“Nah, terus kira-kira kenapa Kanjeng Nabi nyuruh pakaiannya diangkat?”
“Ya mungkin lho mbah ya, mungkin.” Kata Mad Fata. “Kanjeng Nabi nyuruh kita menjaga pakaian agar tidak kena debu yang diragukan kesuciannya, mungkin waktu angin agak kencang debunya bercampur telethong unta. Kan najis mbah.”
“Nah berarti yang disuruh ngangkat pakainnya apa menjaga kesuciannya ?”
“Kesucian mbah.”
“Nah, sekarang kita mencoba dari sisi makna. Kira-kira maksud pakaian nglembreh itu apa ?
“Apa ya mbah ?” Culing mendongakkan wajahnya. “Mungkin tandanya berlebihan mbah. Kan kalo nglembreh berarti pakaiannya lebih.”
“Nahh tepat. Berarti kalo berlebihan tandanya orang yang ?”
“Sombooong.” Hampir serentak ketiga pemuda itu menjawab Nisito
“Nah, berarti Kanjeng Nabi nyuruh kalo pakaian biasa aja, ndak usah terlalu bagus. Ataupun meskipun pakaiannya biasa, jangan sampai ada niat ingin menyombongkan diri.”
“Intinya.” Sahut Juniti. “Meskipun kita lempit sarung kita tapi tujuan kita tidak seperti maksud Kanjeng Nabi, ya salah kaprah lee.”
Ketiga pemuda tersebut manggut-manggut seperti diceramahi kyai tapi potongan kayak wong gendheng. Tak berselang lama, muncul sesosok orang njembling seperti busung lapar dengan mata yang sayu mendekati mereka. Tak salah lagi, Kacud menghampiri mereka dengan memakai baju surjan, sandal klompen, dan berjarik.
“Lo,, loo,, mbah Kacud ini mau nikah lagi to ? Iling mbah, udah layu.” Kata Mad Fata.
“Aku baru ketemu Kanjeng Nabi. Makanya pakai begini.”
“Loh kok ya aneh, ketemu Kanjeng Nabi ya pakek sarung bergamis mbah. Bukan kayak mantenan.” Culing nampak tidak terima.
“Itu kan Kanjeng Nabi menurutmu, Kanjeng Nabiku ya begini. Wong beliau orang Jawa kok, Cuma dulu bajunya jubah semua, makanya beliau berjubah. Coba beliau ndak disuruh ke Arab, ya mungkin bersurjan.”
“Mbah Kacud ini tiga hari nyepi udah sesat, tobat mbaah. Kanjeng Nabi pakaiannya jubah putih bagus, pakek sorban.”
“Nabimu kui sopo to ? Kanjeng Nabi Muhammad, Musailamah Al-Kadzab atau Abu Jahal ?”
“Ngawur mbah ini, ya Nabi Muhammad.”
“Lho ya gini pakaiane Kanjeng Nabi. Nek jubahan bagus yo Abu Jahal. Lha Kanjeng Nabi angon wedhus kok jubahan apik. Gile lo ndro.”
“Kanjeng Nabi berjubah kan memang pakaiannya di Arab semua berjubah. Beliau abdan Nabiyya. Nabi yang menghamba. Beliau mensejajarkan dirinya dengan orang atau rakyatnya yang pakaiannya paling buruk sehingga banyak tambalan di jubah beliau lee.” Ujar Nisito
“Kalau di Jawa mungkin Kanjeng Nabi ya bersurjan, pakai udheng, membawa keris. Makanya kanjeng Sunan Kalijaga ya begitu, niru nilai berpakaiannya Kanjeng Nabi, bukan niru pakaiannya.” Sambung Juniti
“Tapi tadi mbah Kacud bilang kalo kanjeng Nabi Muhammad orang Jawa. Kan pengawuran sejarah mbah.” Kata Culing
“Maklum Ling, mbah Kacud ndak sekolah.” Sahut Mad Fataa
“Memang secara jasad, beliau orang Arab. Namun, secara kepribadian dan karakter serta kelakuan, beliau berjiwa Jawa sehingga mbahmu Kacud menganggap beliau masih ada darah Jawa.” Kata Nisito
“Lho, kok bisa mbah ?” Culing kebingungan
“Coba, sifat kanjeng Nabi Muhammad itu bagaimana yang paling menonjol ?”
“Beliau lembut, ndak pemarah, pemaaf, dan apa lagi yaa...” jawab Mad Fataa
“Beliau adalah Al-Qur’an yang hidup.” Sahut Culing
“Wah, jawabanmu kurang kreatip. Kanjeng Nabi suka bertapa, suka ngitung-itung, suka kemenyan, suka musik, suka wetonan.” Tungkas Kacud
“Lho, lho, beneran to mbah ?”
“Ngawur sampeyan mbah !”
“Gini lee, Kanjeng Nabi kan juga melakukan bertapa atau menyendiri di tempat yang jauh dari keramaian. Atau mungkin kalian menyebutnya ya berkhalwat di Gua Hira. Akhirnya beliau mendapatkan kesejatian diri dengan diangkat menjadi Nabi dan Rasul.” Jawab Nisito
“Oiya ya mbah, beliau menyendiri 40 hari 40 malam sehingga mendapat wahyu.” Ucap Culing
“Lebih tepatnya, mendapat risalah dan nubuwah lee, bukan sekedar wahyu. Karena kalau wahyu, semua makhluk juga diwahyui oleh Gusti Allah. Wong lebah ae diberi wahyu kok, opo maneh potongan kita.” Sahut Juniti
“Kanjeng Nabi juga suka dengan perhitungan. seperti ketika beliau sakit, beliau minta air dari 7 sumur sebagai jalaran obatnya. Nah, coba kalian pikir lah, bangsa mana yang suka dengan begituan ?” tanya Nisito
Para pemuda nampak bingung ngelu dengar sebuah hal aneh yang kalo disalahkan ya kayaknya ndak salah, dibenarkan ya kok ndak ada dalam buku-buku pelajaran.
“Iya ya mbah, tak pikir-pikir juga begitu. Sifat orang Arab kan kebanyakan agak keras dengan suaranya yang lantang. Kalo saya belajar pembagian iklim ya wajar mereka berwatak keras karena iklim di sana kan ganas. Tapi kok ya Kanjeng Nabi itu berbeda, kok aluuus, kalem, santun, ngomongnya ya ndak keras tapi jelas.” Beber Arda yang dari tadi meneng tiba-tiba mulai muni.
“Wah wah, kamu kritis juga Da, kamu tau dari mana kok orang Arab keras ?”
“Kan pernah ada Sayyid atau orang sini nyebutnya Habib dari wilayah Arab ngisi pengajian, kalo ngomong ya beda dengan bangsa Jawa. Ngomongnya keras dan tidak basa basi. Kalo kita kan meskipun ngomong benar dan menyalahkan yang lain tetap memikirkan perasaan orang to mbah.”
“Joss, joss.” Kacud tiba-tiba bertepuk tangan. “Potonganmu kayak wong ngedos, tapi pikiranmu ngalah-ngalahi propesor.”
“Penampilan bukan patokan penilaian mbah. Haha”
“Tapi ya mosok Gusti Allah keliru nakdirkan kanjeng Nabi ke Arab ?” tanya Mad Fata
“Lho ya ndak lahh,, islam kui butuh penguatan akar. Makanya ditaru di Arab. Orang Arab kalo indah ya dibilang indah, kalo salah ya dibilang salah. Tegas, keras, dan kuat. Maka dinikahkan atau diperjodohkan dengan kanjeng Nabi sebagai sosok penghalus, pengasih, penyayang. Islam menjadi sebuah nilai yang lengkap dan indah dengan dasar yang kuat lee.” Ujar Nisito
“Betul itu Mad, nek ditaruh di Jawa, waah jelas ndak kuat. Disini salah ya yang ngomong salah yang dipertanyakan. Separuh bilang benar, separuh salah, wah serba dibulet-buletkan. Kemudian sifat Jawa ya manutan tanpa pikir panjang. Bahaya kalo islam turun disini, nanti jadinya kayak keyakinan lain yang punya banyak versi kitab sucinya.” Tungkas Arda sambil merem melek
“Sek sek sek. Kamu ini kerasukan jin apa kok tiba-tiba ngomong gini.” Tanya Kacud
“Lho kan, gini nih sifat Jawa. Orang benar dipertanyakan. Kalo di Arab, langsung manthuk-manthuk mbah. Huahua”
“Kampret kowe.”

*SLUKU-SLUKU BATHOK*
```Sluku-sluku bathok,
Bathoké éla-élo
Si Rama menyang Solo,
Oléh-oléhé payung mutho.
Mak jenthit lolo lo bah,
Yén mati ora obah
Yén obah medéni bocah,
Yen urip goléko dhuwit"```
*Sluku-sluku bathok:*
_Hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja. Waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi seimbang. Bathok atau kepala kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya._
*Bathoké éla élo :*
_Dengan berdzikir *(éla-élo = Laa Ilaaha Ilallah)*, mengingat Allah, syaraf neuron di otak akan mengendur. Ingatlah Allah, dengan mengingat-Nya hati menjadi tentram._
*Si Rama menyang Solo:*
_*Siram (mandilah, bersucilah)* menyang (menuju) *Solo (Solat).* Lalu bersuci dan dirikanlah salat._
*Oléh-oléhé payung mutho :*
_Maka kita akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita._
*Mak jenthit lolo lo bah :*
_Kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu. Tak dapat diprediksi tak juga terkira. Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat._
*Wong mati ora obah :*
_Saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang._
*Yen obah medéni bocah :*
_Banyak Jiwa Yang-Rindu Untuk-Kembali Pada-Allah ingin minta dihidupkan, tapi Allah tak mengizinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya pasti menakutkan dan madlaratnya tentu lebih besar._
*Yén urip goléko dhuwit :*
_Kesempatan untuk beramal hanya ada di saat sekarang (selagi mampu sekaligus ada waktu) bukan di nanti (ketidakmampuan dan hilangnya kesempatan), tempat behramal hanya di sini (Dunia) bukan di sana (Akherat), di sana bukan tempat beramal (bercocok tanam) tapi tempat berhasil (panen raya)._

SEWELASAN

AGENDA

  • MENGOLEKSI
  • BERKEGIATAN
  • NAPAK TILAS

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget