Senin, 13 Februari 2017

Kalau ada yang bilang Kerajaan WILWATIKTA (Majapahit) itu PENAKLUK NUSANTARA ..... SURUH BELAJAR LAGI. Karena Kerajaan WILWATIKTA (Majapahit) adalah pimpinan dari "Konfederasi Nusantara" yang dibentuk jauh ratusan bahkan ribuan tahun sebelum eranya.
Bekas pemimpin Konfederasi Nusantara yang bisa dijejaki saat ini adalah : TARUMANEGARA, KUTAI, MATARAM HINDU (artefak Borobudur), SRIWIJAYA (Prasasti), KAHURIPAN (Prasasti), DHAHA PANJALU (ekspedisi Pabali, Prasasti), SINGHASARI (ekspedisi Pamalayu, Prasasti), dan WILWATIKTA / MAJAPAHIT (Sumpah Palapa, ekspedisi Nusantara Jayati, Prasasti).
Mari beranalogi secara cerdas, bahwa atas persamaan kepentingan dan tujuan .... beberapa kerajaan di kawasan Nusantara (jauh lebih luas dari Indonesia modern, Nusantara lama mempunyai batas barat : Madagaskar, batas timur : Kepulauan Paskah, batas utara : Kepulauan Okinawa dan batas selatan : Selandia Baru) membentuk konfederasi atau pakta ekonomi dan pertahanan. Mereka memilih pimpinan, kerajaan yang dianggap kuat dan mempunyai kredibilitas tinggi melakukan misi diplomatik dengan kerajaan lain diluar kawasan Nusantara.
Bahan kajian dan renungan, EKSPEDISI PAMALAYU 1 dan 2 oleh Kerajaan SINGHASARI adalah atas permintaan anggota konfederasi : Kerajaan DHARMASRAYA. Atas gangguan wilayah lautnya oleh Lanun (bajak laut) selat Malaka yang bermarkas di Tumasik. Jadi itu bukan ekspedisi penundukan atas kerajaan-kerajaan Melayu tetapi justru bantuan militer dari seluruh anggota konfederasi atau operasi penegakan kedaulatan. Tidak ada satupun prasasti yang menyebutkan perang terjadi antara Kerajaan Singhasari dengan Kerajaan Dharmasraya, yang ada malah prasasti Traktat PORTO yang menyebutkan adanya kesepakatan antara Portugis dengan armada laut konfederasi yang diwakili Kerajaan Singhasari, bahwa batas terluar wilayah Singhasari ditandai dengan penanda batas PURA di atas pulau Tumasik = SINGHASARI PURA = SINGHAPURA (yang sekarang menjadi negara sendiri).
Kajian lain, ketika Majapahit baru berumur 3 tahun : ada catatan dari bangsa China dan Portugis menyebutkan mempunyai armada kapal militer dan dagang ribuan jumlahnya. Analogi pemikiran : mahasiswa ITS (Fak. Perkapalan) pernah mencoba membangun replika satu kapal Phinisi Nusantara untuk BPPT saat itu, dengan peralatan modern dan logistik yang cukup membutuhkan waktu 8 bulan dengan dana luar biasa besar. Terus kalau Majapahit punya kapal sampai ribuan, galangan mana yang mampu memproduksi sebanyak itu dan darimana dana pembangunannya yang jelas akan membuat Majapahit bangkrut diusia balita nya.
Kesimpulan, Majapahit telah diangkat menjadi PIMPINAN KONFEDERASI NUSANTARA oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara sebagai pewaris Kerajaan Singhasari yang sah (karena saat itu empat putri raja terakhir Kerajaan Singhasari bergabung dalam Kerajaan Majapahit). Armada laut yang dimilikinya adalah warisan Kerajaan Singhasari dan armada milik anggota konfederasi yang di kelolanya. Sumbangan terbesar datang dari : Kerajaan Bugis, Kerajaan Sulu, Armada Madura, Armada Bali dan Lombok, Armada Kutai, Armada Dharmasraya.
Sumpah Palapa oleh GAJAHMADA bukan upaya penaklukan Nusantara, tetapi mirip dengan Ekspedisi Pamalayunya Singhasari .... itu operasi PENEGAKAN KEDAULATAN KONFEDERASI NUSANTARA. Yang dituju adalah wilayah bermasalah di kawasan Nusantara, baik yang sifatnya pemberontakan atau pembangkangan kerajaan lokal terhadap kesepakatan awal ataupun karena adanya penguasa baru yang ingin memisahkan diri dari konfederasi saat Kerajaan Singhasari sebagai pemimpin konfederasi runtuh akibat serangan Kerajaan Gegelang yang masih kerabatnya sendiri.
Luas wilayah Nusantara yang sedemikian luar biasa dan banyaknya kerajaan-kerajaan lokal didalamnya, jelas membutuhkan waktu lama dan jumlah pertempuran yang banyak guna menundukkannya. Tapi berapa banyak yang anda dapat temukan dicatatan sejarah dan prasasti atas pertempuran yang dilakukan oleh Majapahit ? ..... jawabnya jelas dibawah 10 kali pertempuran besar. Dan itu bukti lain, bahwa Majapahit adalah PEMIMPIN yang dipilih dan bukannya penakluk Nusantara.
Jadi sudah betul kalau pencetus negara INDONESIA modern saat ini mengambil bentuk negara KESATUAN, karena memang seperti itu adanya sejak ribuan tahun yang lalu. Dan INDONESIA sekarang ini adalah transformasi sempurna dari nilai-nilai yang diperjuangkan seluruh anggota konfederasi Nusantara yang pernah dipimpin : TARUMANEGARA, KUTAI, MATARAM HINDU, SRIWIJAYA, KAHURIPAN, DHAHA PANJALU, SINGHASARI dan WILWATIKTA / MAJAPAHIT.
Maka adalah kewajiban kita untuk menjaga dan menyempurnakannya. Ketika terjadi ketimpangan pelaksanaan yang menyebabkan ketidak puasan, kerugian bagi suatu wilayah, hendaknya kita tinjau ulang dan membenahi sistemnya. Kalau yang salah pimpinannya, ya diganti pimpinannya sesuai mekanisme yang ada. Tetapi bila kekecewaan itu diekspresikan dengan pemisahan diri atau menuntut kemerdekaan ..... jawabanya adalah jelas ..... akan ada operasi penegakan kedaulatan, sama dengan yang dilakukan Kerajaan Singhasari dengan Ekspedisi Pamalayunya, sama dengan yang dilakukan oleh Gajahmada dengan Sumpah Palapanya.

Rabu, 08 Februari 2017

SOMBA OPU VS VOC

PERANG BATAK


PERANG PATTIMURA


Selasa, 31 Januari 2017


Sekitar pada abad ke 17 tepatnya tahun 1738 Masehi, Kerajaan Mataram (sudah Islam bukan mataram Kuno) mengadakan pertemuan agung, dimana seluruh Bupati tiap-tiap kota berkumpul di Ngayogyakarta. Yang namanya Bupati melakukan perjalanan dinas yang jauh (sekitar 315km Gresik-keraton), untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan terhadap bupati, maka banyak prajurit tangguh di pusatkan untuk mengawal Bupati mereka masing-masing, demikian dengan Bupati Gresik. Kota Gresik yang sepi akan pengamanan menjadi sasaran empuk oleh cakraningrat IV dari Sampang Madura, untuk menguasai Gresik dengan mengerahkan Demangnya bernama Dewaraga yang kondang akan kesaktiannya beserta prajurit yang menggunakan banyak perahu saat malam hari

Ketika orang madura sampai di pendopo Gresik, prajurit dari Sampang menjarah harta di seluruh toko Gresik dan harta benda para pejabat Gresik, Para perempuan juga di rampas bahkan istri Bupati Gresik dan istri para pejabat Gresik serta seluruh anak perempuan pun di boyong ke Madura dengan menggunakan perahu pula. Pasukan Sampang yang sudah menguasai Wilayah Gresik menyuruh para pejabat Gresik menggunakan pakaian khas Madura serta di gundul rambutnya apabila tidak mau akan di siksa habis-habisan, dan saat itulah demang Dewaraga dari sampang mendeklarasikan dirinya sebagai Bupati Gresik.

Namun ada pejabat Gresik yang lolos dari kejaran pasukan Sampang dan melarikan diri ke keraton untuk melaporkan kejadian bahwa Gresik telah dikuasai Sampang. Mendengar Gresik yang di ambil Alih Madura secara Keji, Bupati ponorogo merasa simpati dan akan membantu bupati Gresik untung mengkondisikan kembali dengan memberi bantuan dalam bala pasukan elite ponorogo, yang tidak lain Warok.
(Disini terlihat uniknya, dari puluhan bupati yang hadir. Hanya bupati Ponorogo yang bersimpati dan siap membantu menyelesaikan kemelut di Gresik yang telah dikuasai sepenuhnya oleh pihak Sampang, Madura. Sayangnya dalam serat tidak ditulis siapakah bupati ponorogo ini)

Sebelumnya, Karena bantuan dari warok Ponorogo Keraton Mataram pernah terselamatkan dari seranganTrunojoyo dari Sampang, para warok diberikan sebuah tempat istimewa yang kini menjadi Kulonprogo. 
Bupati Gresik dan Ponorogo melakukan perjalanan ke Gresik dengan singgah dahulu di Ponorogo untuk keperluan ekspedisi. dan dilanjutkan peralanan melalui rute madiun, nganjuk, jombang, mojokerto, dan membuat benteng sementara di salah satu daerah Gresik yang bernama Cerme. pasukan Gresik-Ponorogo mulai diserang oleh pasukan sampang, namun pasukan sampang kelah talak dan kocar-kacir. padahal pasukan sampang lebih banyak daripada Gresik-Ponorogo, antara 7000 banding 700 pasukan. Kegagalan pasukan madura menyerang pertahan Gesik ini membuat murka Cakraningrat IV, hingga dikerahkan para jawara untuk menyerbu, namun Terlambat bantuan para jawara ini yang berpapasan dengan pasukan Madura yang mengotong mayat temannya dan yang sedang terluka, perang pun terhindarkan para jawara dan demang Dewa Raga pun tewas saat perang.
Bupati Ponorogo dipersilahkan kembali ke Keraton, namun para Warok masih turut membantu pasukan Gresik untuk merebut alun-alun Gresik. Bupati Gresik mendapatkan tawaran bantuan dari VOC dan diterima oleh Bupati Gresik. pasukan sampang pun banyak yang melarikan diri ke madura, namun karena kemarahan warga Gresik turut membakar perahu-perahu madura, sehingga banyak pasukan sampang yang bersembunyi di pesisir Gresik yang kini bernama desa Meduran.
Cakraningrat IV pun meminta maaf keapada bupati Gresik, dan dikembalikannya istri bupati dan seluruh perempuan yang dibawa ke sampang sebelumnya dan memohon untuk dikasihani pasukan madura yang tidak bisa kembali ke sampang. tidak diketahui secara pasti kekalahan pasukan madura ketika perang terjadi, entah karena pusaka bupati Gresik ataupun lawan yang serang justru para warok ponorogo yang sudah terkenal kesaktiannya yang secara pakaian terdapat kemiripan justru menyerang balik, terlebih adik bupati ponorogo (batara katong) yang menjadi pengasa Sumenep yang merupakan kiblat dari seluruh kota madura.
Untuk mengantisipasi serangan mendadak dari Madura, maka bupati Gresik selanjutnya berasal dari Ponorogo hingga ke era R.M Soero Diwirjo yang lahir di Gresik. Kemenangan Gresik atas sampang ini yang berhasil mengusir pasukan sampang memutuskan cakraningrat untuk memindahaan warga sampang sebanyak 250.000 orang ke wilayah jawa yang kini dikenal dengan tapal kuda.
Setelah Gresik damai seperti sedia kala, dalam pertemuan bupati ponorogo dan bupati Gresik terjadi percakapan kecil.
"Piye Gersik?"
"Gresik..."
"Gegere wis Resik...
Hingga saat ini warga ponorogo di Gresik saling sinkronasi membaur dengan warga Gresik sejak lama. slain itu terdapat Group Reyog di Gresik baik dikelola desa/perorangan (sidomoro, driyorejo, benjeng), sekolahan (sdn Ponganagan, smpn3Gresik, Sman1kebomas,sman1manyar), perusahaan (Pt.semen Gresik Indonesia, Pt pupuk petro kimia Gresik) hingga keagamaan (pura medang kamulan)

Rabu, 18 Januari 2017




Shield of an Aceh warrior, captured in 1876. Aceh, ca. 1870-1875

Shield of an Aceh warrior, captured in 1876. Aceh, ca. 1870-1875
For many years, the colonial administration focused purely on Java. It was thought that the other islands of the archipelago, the outer provinces, were unprofitable, so they were left undisturbed. In the late 19th century, the Dutch changed tack. With the opening of the Suez Canal, more ships had started to use the Malacca Strait, and these had fallen prey to pirates who operated from the nearby sultanate of Aceh on Sumatra and threatened to make use of the route impossible. Moreover, in 1871, the Netherlands had acquired official sovereignty over Aceh. To enforce its authority, the Dutch sent troops to take over the palace of the sultan of Aceh. It was a symbolic act, but a guerrilla war erupted which seemed impossible to suppress. Led by J.B. van Heutsz, a Dutch army eventually managed to break the resistance. Dutch troops treated the indigenous population with particular severity.


After the Java War, a Dutch vision developed of the East Indies as a subdued province. Johannes van den Bosch, the governor general who launched the cultivation system in 1830, envisaged that instead of paying rent, the indigenous population would henceforth devote a fifth of their land to export crops. This produce – indigo, sugar and coffee – was sold in Europe by the Netherlands Trading Company (Nederlandsche Handel-Maatschappij or NHM), which made a vast profit.
The Dutch government received considerable revenue from the East Indies: in some years, as much as a quarter of the nation’s income came from the colony. Local rulers also benefited from the cultivation system. They received bonuses if their farmers increased production. For the ordinary Javanese, the cultivation system was an additional financial burden, moreover it led to corruption and exploitation. Despite protests against its harmful effects, the system remained in place until 1870.
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870
Four Javanese court functionaries. Java, c. 1810-1870

Senin, 16 Januari 2017

SEWELASAN

AGENDA

  • MENGOLEKSI
  • BERKEGIATAN
  • NAPAK TILAS

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget